Tercipta dari pemikiran manusia dan dengan semangat kemajuan teknologi yang kian mendukung dengan kecanggihannya, manusia mampu menciptakan sebuah penemuan yang benar-benar maha karya. Awalnya hanya sebuah penelitian teori dan praktek uji coba, tapi dari teori dan praktek uji coba itu akhirnya manusia benar-benar dimudahkan dalam segala aktifitasnya.
Tidak jadi soal dan tidak jadi permasalahan jika kita belum bisa menciptakan sesuatu produk yang lebih dari canggih. Atau merasa ketinggalan tanpa memiliki produk tersebut! Yang perlu kita ingat adalah bagaimana caranya kita bisa mengikuti perkembanagan ilmu teknologi itu.
Kemudahan ada pada manusia untuk mengikutinya. manusia bisa melihat , membaca, menulis dan mengekspresikannya. Maka dari lembaran -lembaran seperti inilah kita bisa memualai mengekspresikan dan mengikuti perkembangan tekhnologi itu. Apa yang kita lihat, apa yang kita dengar itulah awal dari kita untuk mengikutinya.
Contoh saja sebut yang namanya motor atau mobil. Sebuah alat transportasi yang sangat-sangat membantu proses kelancaran dalam kehidupan manusia saat beraktifitas dan berproduksi. Mobil atau motor itu hanya salah satu contoh terkecil dari sekian banyak dampak akibat kemajuan teknologi dalam taraf hidip manusia.
Akhirnya dari lembaran inilah masalah masalah yang berkaitan dengan dunia OTTO akan di ekspresikan dan di kemas khusus untuk Dunia Otto.
Selasa, 08 Juli 2008
Senin, 07 Juli 2008
4 Faktor Memperirit BBM
Beruntung sekali pengendara yang mobilnya sudah dilengkapi dengan perangkat Multi Information Display (MID). Awal-awal kenaikan harga bahan bakar minyak (bbm) seperti sekarang ini pasti membuat pengendara lebih "aware" terhadap konsumsi bbm. Salah satu informasi yang bisa dilihat adalah konsumsi bbm.
Pertanyaannya, bagaimanakah jika monitor menyebutkan angka konsumsi bbm yang lumayan boros? Untuk menjawab ini, terlepas dari sudah mengaplikasikan MID atau belum, kita dapat berbicara soal gaya berkendara. Karena boros tidaknya konsumsi bbm sebenarnya terkait dengan kebiasaan pengendara dalam memainkan gas, memantau rpm, "melarikan" mobil, serta seberapa berat beban yang harus diangkut mesin itu sendiri. Berikut ini gaya berkendara yang dapat kita perhatikan:
1. Jangan menginjak pedal gas dengan menghentak. Injakan harus stabil dan bertahap.
Kalau pedal gas diinjak secara tiba-tiba, otomatis bahan bakar yang akan dihisap ke ruang bakar juga semakin banyak. Sementara, pada saat itu putaran mesin masih rendah. Akibatnya tidak semua bahan bakar yang masuk ke ruang mesin terbakar. Ini yang disebut dengan pemborosan. Karena, bahan bakar yang masuk tidak keluar dalam bentuk tenaga, tetapi ikut terbuang lewat knalpot.
2. Pindahkan gigi persneling sesuai RPM kendaraan.
Pemindahan perseneleng ketika mobil tengah membutuhkan torsi (daya dorong) yang besar, sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan keterangan mengenai moment maximum (torsi maximum) masing-masing mobil (biasanya dalam satuan kgm/rpm). Sementara, apabila kendaraan sudah bergerak (di mana daya dorong tidak diperlukan), paling efisien bila melaju dengan RPM di antara 2.500 s/d 3.500 dan dengan gigi tertinggi.
Satu kebiasaan yang seringkali dilupakan pengendara adalah: tidak segera menyesuaikan gigi persneling setelah penurun kecepatan (deselerasi). Setelah berlari kencang lalu tiba-tiba ngerem mendadak, sebaiknya juga mengoper gigi perseneling ke posisi lebih rendah.
3. Ukur tingkat HC dan CO.
Boros atau tidaknya konsumsi bahan bakar juga ditentukan oleh komponen-komponen mesin. Komponen mesin yang sudah banyak mengalami keausan / kerusakan bisa menyebabkan pembakaran bahan bakar tidak sempurna. Untuk mengetahuinya, periksa emisi gas buang. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan nilai HC (hidrokarbon) dan CO (karbonmonoksida) terlalu tinggi, ini pertanda pembakaran di ruang bakar tidak sempurna (banyak bahan bakar terbuang percuma).
4. Perhatikan beban dan komponen penggerak.
Faktor lain yang menentukan konsumsi bahan bakar adalah beban dan penggerak (pendorong kendaraan). Semakin berat beban yang harus diangkut, konsumsinya juga akan semakin besar. Yang dimaksud penggerak di antaranya, kopling, bearing (roda), kopel (propeler shaft), as roda, dan roda. Bila komponen-komponen ini aus atau rusak, akan menyebabkan hilangnya tenaga yang dihasilkan oleh mesin untuk mendorong mobil mejalu. Sementara, konsumsi bahan bakarnya tetap besar. Terkait dengan roda, penyematan ban dan velg besar, termasuk juga faktor yang mempengaruhi konsumsi bbm.
Pertanyaannya, bagaimanakah jika monitor menyebutkan angka konsumsi bbm yang lumayan boros? Untuk menjawab ini, terlepas dari sudah mengaplikasikan MID atau belum, kita dapat berbicara soal gaya berkendara. Karena boros tidaknya konsumsi bbm sebenarnya terkait dengan kebiasaan pengendara dalam memainkan gas, memantau rpm, "melarikan" mobil, serta seberapa berat beban yang harus diangkut mesin itu sendiri. Berikut ini gaya berkendara yang dapat kita perhatikan:
1. Jangan menginjak pedal gas dengan menghentak. Injakan harus stabil dan bertahap.
Kalau pedal gas diinjak secara tiba-tiba, otomatis bahan bakar yang akan dihisap ke ruang bakar juga semakin banyak. Sementara, pada saat itu putaran mesin masih rendah. Akibatnya tidak semua bahan bakar yang masuk ke ruang mesin terbakar. Ini yang disebut dengan pemborosan. Karena, bahan bakar yang masuk tidak keluar dalam bentuk tenaga, tetapi ikut terbuang lewat knalpot.
2. Pindahkan gigi persneling sesuai RPM kendaraan.
Pemindahan perseneleng ketika mobil tengah membutuhkan torsi (daya dorong) yang besar, sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan keterangan mengenai moment maximum (torsi maximum) masing-masing mobil (biasanya dalam satuan kgm/rpm). Sementara, apabila kendaraan sudah bergerak (di mana daya dorong tidak diperlukan), paling efisien bila melaju dengan RPM di antara 2.500 s/d 3.500 dan dengan gigi tertinggi.
Satu kebiasaan yang seringkali dilupakan pengendara adalah: tidak segera menyesuaikan gigi persneling setelah penurun kecepatan (deselerasi). Setelah berlari kencang lalu tiba-tiba ngerem mendadak, sebaiknya juga mengoper gigi perseneling ke posisi lebih rendah.
3. Ukur tingkat HC dan CO.
Boros atau tidaknya konsumsi bahan bakar juga ditentukan oleh komponen-komponen mesin. Komponen mesin yang sudah banyak mengalami keausan / kerusakan bisa menyebabkan pembakaran bahan bakar tidak sempurna. Untuk mengetahuinya, periksa emisi gas buang. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan nilai HC (hidrokarbon) dan CO (karbonmonoksida) terlalu tinggi, ini pertanda pembakaran di ruang bakar tidak sempurna (banyak bahan bakar terbuang percuma).
4. Perhatikan beban dan komponen penggerak.
Faktor lain yang menentukan konsumsi bahan bakar adalah beban dan penggerak (pendorong kendaraan). Semakin berat beban yang harus diangkut, konsumsinya juga akan semakin besar. Yang dimaksud penggerak di antaranya, kopling, bearing (roda), kopel (propeler shaft), as roda, dan roda. Bila komponen-komponen ini aus atau rusak, akan menyebabkan hilangnya tenaga yang dihasilkan oleh mesin untuk mendorong mobil mejalu. Sementara, konsumsi bahan bakarnya tetap besar. Terkait dengan roda, penyematan ban dan velg besar, termasuk juga faktor yang mempengaruhi konsumsi bbm.
Seberapa penting pendingin mesin itu?
Sberapa penting pendingin mesin itu?
Di antara objek yang harus sering kita lihat saat berkendara adalah indikator-indikator yang terletak di dashboard. Salah satunya adalah indikator yang menunjukkan temperatur mesin. Jika jarum indikator menunjukkan ke level HOT, Anda harus waspada. Bila kecenderungan temperatur terus naik, coba matikan pendingin (AC) untuk mengurangi beban mesin agar mobil yang Anda kendarai terhindar dari overheating.
Setelah berada di tempat yang aman, segera lakukan pemeriksaan pada sistem pendingin mesin. Bukan tak mungkin penyebabnya sangat sederhana: yaitu, air radiator mobil Anda nyaris habis. Kecenderungan ini kerap dialami para pengendara, terutama bagi mereka yang jarang memeriksa kuantitas dan kualitas air radiator.
Pada sistem pendingin yang bekerja dengan sempurna, kuantitas air radiator memang tidak pernah berkurang. Jumlah air di tangki reservoir (cadangan) akan selalu berada di antara garis MAX dan MIN. Hanya ada dua kemungkinan besar yang memicu air radiator berkurang. Pertama, terjadi kebocoran pada sistem radiator, baik kebocoran di pompa air, radiator, selang-selang maupun pipa-pipanya. Kedua, kondisi tutup radiator yang tidak bagus sehingga fungsi katup tekan dan hisapnya tidak bekerja dengan baik yang berakibat sirkulasi air radiator dari tangki ke mesin terganggu.
Kedua penyebab di atas banyak dipengaruhi oleh faktor usia. Mungkin saja terjadi kebocoran di pompa air, selang-selang, pipa, radiator maupun tutup radiator karena korosi. Semakin lama usia kendaraan, semakin besar terjadi kemungkinan bocor dan tutup radiator yang tidak normal.
Meskipun demikian, sebagai pengendara kita dapat memperpanjang usia dengan melakukan penggantian air radiator sesuai dengan pedoman yang telah ditentukan oleh pabrikan. Akan lebih jauh juga jika Anda menggunakan air khusus untuk sistem radiator.
Di antara objek yang harus sering kita lihat saat berkendara adalah indikator-indikator yang terletak di dashboard. Salah satunya adalah indikator yang menunjukkan temperatur mesin. Jika jarum indikator menunjukkan ke level HOT, Anda harus waspada. Bila kecenderungan temperatur terus naik, coba matikan pendingin (AC) untuk mengurangi beban mesin agar mobil yang Anda kendarai terhindar dari overheating.
Setelah berada di tempat yang aman, segera lakukan pemeriksaan pada sistem pendingin mesin. Bukan tak mungkin penyebabnya sangat sederhana: yaitu, air radiator mobil Anda nyaris habis. Kecenderungan ini kerap dialami para pengendara, terutama bagi mereka yang jarang memeriksa kuantitas dan kualitas air radiator.
Pada sistem pendingin yang bekerja dengan sempurna, kuantitas air radiator memang tidak pernah berkurang. Jumlah air di tangki reservoir (cadangan) akan selalu berada di antara garis MAX dan MIN. Hanya ada dua kemungkinan besar yang memicu air radiator berkurang. Pertama, terjadi kebocoran pada sistem radiator, baik kebocoran di pompa air, radiator, selang-selang maupun pipa-pipanya. Kedua, kondisi tutup radiator yang tidak bagus sehingga fungsi katup tekan dan hisapnya tidak bekerja dengan baik yang berakibat sirkulasi air radiator dari tangki ke mesin terganggu.
Kedua penyebab di atas banyak dipengaruhi oleh faktor usia. Mungkin saja terjadi kebocoran di pompa air, selang-selang, pipa, radiator maupun tutup radiator karena korosi. Semakin lama usia kendaraan, semakin besar terjadi kemungkinan bocor dan tutup radiator yang tidak normal.
Meskipun demikian, sebagai pengendara kita dapat memperpanjang usia dengan melakukan penggantian air radiator sesuai dengan pedoman yang telah ditentukan oleh pabrikan. Akan lebih jauh juga jika Anda menggunakan air khusus untuk sistem radiator.
Di antara objek yang harus sering kita lihat saat berkendara adalah indikator-indikator yang terletak di dashboard. Salah satunya adalah indikator yang menunjukkan temperatur mesin. Jika jarum indikator menunjukkan ke level HOT, Anda harus waspada. Bila kecenderungan temperatur terus naik, coba matikan pendingin (AC) untuk mengurangi beban mesin agar mobil yang Anda kendarai terhindar dari overheating.
Setelah berada di tempat yang aman, segera lakukan pemeriksaan pada sistem pendingin mesin. Bukan tak mungkin penyebabnya sangat sederhana: yaitu, air radiator mobil Anda nyaris habis. Kecenderungan ini kerap dialami para pengendara, terutama bagi mereka yang jarang memeriksa kuantitas dan kualitas air radiator.
Pada sistem pendingin yang bekerja dengan sempurna, kuantitas air radiator memang tidak pernah berkurang. Jumlah air di tangki reservoir (cadangan) akan selalu berada di antara garis MAX dan MIN. Hanya ada dua kemungkinan besar yang memicu air radiator berkurang. Pertama, terjadi kebocoran pada sistem radiator, baik kebocoran di pompa air, radiator, selang-selang maupun pipa-pipanya. Kedua, kondisi tutup radiator yang tidak bagus sehingga fungsi katup tekan dan hisapnya tidak bekerja dengan baik yang berakibat sirkulasi air radiator dari tangki ke mesin terganggu.
Kedua penyebab di atas banyak dipengaruhi oleh faktor usia. Mungkin saja terjadi kebocoran di pompa air, selang-selang, pipa, radiator maupun tutup radiator karena korosi. Semakin lama usia kendaraan, semakin besar terjadi kemungkinan bocor dan tutup radiator yang tidak normal.
Meskipun demikian, sebagai pengendara kita dapat memperpanjang usia dengan melakukan penggantian air radiator sesuai dengan pedoman yang telah ditentukan oleh pabrikan. Akan lebih jauh juga jika Anda menggunakan air khusus untuk sistem radiator.
Di antara objek yang harus sering kita lihat saat berkendara adalah indikator-indikator yang terletak di dashboard. Salah satunya adalah indikator yang menunjukkan temperatur mesin. Jika jarum indikator menunjukkan ke level HOT, Anda harus waspada. Bila kecenderungan temperatur terus naik, coba matikan pendingin (AC) untuk mengurangi beban mesin agar mobil yang Anda kendarai terhindar dari overheating.
Setelah berada di tempat yang aman, segera lakukan pemeriksaan pada sistem pendingin mesin. Bukan tak mungkin penyebabnya sangat sederhana: yaitu, air radiator mobil Anda nyaris habis. Kecenderungan ini kerap dialami para pengendara, terutama bagi mereka yang jarang memeriksa kuantitas dan kualitas air radiator.
Pada sistem pendingin yang bekerja dengan sempurna, kuantitas air radiator memang tidak pernah berkurang. Jumlah air di tangki reservoir (cadangan) akan selalu berada di antara garis MAX dan MIN. Hanya ada dua kemungkinan besar yang memicu air radiator berkurang. Pertama, terjadi kebocoran pada sistem radiator, baik kebocoran di pompa air, radiator, selang-selang maupun pipa-pipanya. Kedua, kondisi tutup radiator yang tidak bagus sehingga fungsi katup tekan dan hisapnya tidak bekerja dengan baik yang berakibat sirkulasi air radiator dari tangki ke mesin terganggu.
Kedua penyebab di atas banyak dipengaruhi oleh faktor usia. Mungkin saja terjadi kebocoran di pompa air, selang-selang, pipa, radiator maupun tutup radiator karena korosi. Semakin lama usia kendaraan, semakin besar terjadi kemungkinan bocor dan tutup radiator yang tidak normal.
Meskipun demikian, sebagai pengendara kita dapat memperpanjang usia dengan melakukan penggantian air radiator sesuai dengan pedoman yang telah ditentukan oleh pabrikan. Akan lebih jauh juga jika Anda menggunakan air khusus untuk sistem radiator.
Penyebab Steer Getar
Beberapa kesalahan pengendara terhadap perawatan kendaraan di antaranya adalah sikap menganggap remeh gejala-gejala yang sebenarnya dapat memicu kerusakan lebih serius. Seperti contoh berikut ini: jika steer (kemudi) bergetar sebaiknya segera lakukan pemeriksaan.
Seharusnya steer tidak terlalu menimbulkan getaraan ketika melaju pada kecepatan berapa pun. Meskipun demikian, banyak kasus yang terjadi di mana mulai terasa getaran saat mobil dipacu pada kecepatan di atas 100 km / jam. Getaran tersebut mengganggu kenyamanan berkendara. Tak hanya itu, gejala ini sebenarnya mengindikasikan telah terjadinya masalah pada roda-roda bagian depan.
Umumnya, kasus ini dipicu oleh roda-roda yang tidak balance. Jika dibiarkan, komponen-komponen yang terkait dengan steer dapat terkena imbas. Misalnya, tie rod, end tie rod, bushing steer, serta laher akan cepat aus dan tidak presisi (oblak).
Sebaiknya, jika mendapatkan steer bergetar kurangi kecepatan kendaraan. Berkendaralah dengan kecepatan yang tidak menimbulkan getaran pada steer. Tentu saja, diharapkan dengan berkurangnya kecepatan, getaran pada steer berkurang, maka efek kerusakan pada komponen lain pun dapat diminimalisir. Selain itu, bergegaslah membawa mobil Anda ke bengkel untuk dilakukan balancing.
Sebagai bentuk pencegahan, rawatlah kendaraan secara teratur. Jangan lupa, setiap kelipatan 10.000 km lakukanlah balancing. Getaran juga dapat disebabkan jika roda-roda mobil sering dipaksa secara kasar melintasi medan yang buruk. Karena itu, bila kebetulan berkendara di jalan yang berlubang, melajulah dengan kecepatan pelan agar benturan pada roda tidak terlalu keras.
Seharusnya steer tidak terlalu menimbulkan getaraan ketika melaju pada kecepatan berapa pun. Meskipun demikian, banyak kasus yang terjadi di mana mulai terasa getaran saat mobil dipacu pada kecepatan di atas 100 km / jam. Getaran tersebut mengganggu kenyamanan berkendara. Tak hanya itu, gejala ini sebenarnya mengindikasikan telah terjadinya masalah pada roda-roda bagian depan.
Umumnya, kasus ini dipicu oleh roda-roda yang tidak balance. Jika dibiarkan, komponen-komponen yang terkait dengan steer dapat terkena imbas. Misalnya, tie rod, end tie rod, bushing steer, serta laher akan cepat aus dan tidak presisi (oblak).
Sebaiknya, jika mendapatkan steer bergetar kurangi kecepatan kendaraan. Berkendaralah dengan kecepatan yang tidak menimbulkan getaran pada steer. Tentu saja, diharapkan dengan berkurangnya kecepatan, getaran pada steer berkurang, maka efek kerusakan pada komponen lain pun dapat diminimalisir. Selain itu, bergegaslah membawa mobil Anda ke bengkel untuk dilakukan balancing.
Sebagai bentuk pencegahan, rawatlah kendaraan secara teratur. Jangan lupa, setiap kelipatan 10.000 km lakukanlah balancing. Getaran juga dapat disebabkan jika roda-roda mobil sering dipaksa secara kasar melintasi medan yang buruk. Karena itu, bila kebetulan berkendara di jalan yang berlubang, melajulah dengan kecepatan pelan agar benturan pada roda tidak terlalu keras.
Langganan:
Postingan (Atom)
